Bak Kolam Renang! Depo Kontainer PT PIL Belawan Terendam, Pengguna Jasa Mulai Resah
BELAWAN || MATANUSANTARABERITA.my.id — Kondisi depo kontainer yang dikelola PT Prima Indonesia Logistik (PT PIL) di kawasan Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, mendapat sorotan dari sejumlah pengguna jasa. Sebagian area penumpukan kontainer dilaporkan terendam air laut sehingga menghambat aktivitas operasional dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi fasilitas maupun barang yang tersimpan.
Pantauan awak media di lokasi pada Minggu, 30 Agustus 2026, menunjukkan sejumlah bagian area depo tergenang air dalam kondisi yang menyerupai kolam. Genangan terlihat memenuhi sebagian lapangan penumpukan kontainer dan membuat aktivitas di kawasan tersebut berjalan lebih lambat.
Kondisi itu dinilai berpotensi mengganggu kelancaran bongkar-muat dan pergerakan kontainer. Pengguna jasa juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap barang maupun peralatan operasional apabila kondisi serupa berlangsung dalam waktu lama.
Seorang pelaku usaha logistik yang menggunakan fasilitas tersebut mengatakan persoalan tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi cuaca atau pasang air laut. Ia menilai sistem drainase dan kondisi infrastruktur di dalam depo perlu mendapat perhatian serius.
“Persoalan utamanya antara lain drainase yang tidak berfungsi optimal, jalan yang berlubang, serta kondisi permukaan areal depo yang tidak merata,” ujar pelaku usaha tersebut. Ia meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurut dia, kondisi fasilitas tersebut menjadi persoalan bagi pengguna jasa yang tetap memiliki kewajiban membayar biaya sesuai kontrak. Pengguna jasa, kata dia, berharap ada keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dengan kualitas layanan dan fasilitas yang diterima.
“Pengguna jasa menilai kondisi fasilitas belum sebanding dengan biaya yang dibayarkan. Karena itu, kami berharap ada evaluasi dan perbaikan nyata,” katanya.
Ia juga menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena depo kontainer merupakan bagian dari mata rantai distribusi logistik di Sumatera Utara. Sejumlah perusahaan, antara lain PT PJN, PT Intercon, PT BSA, PT SPIL, PT SLL dan PT CTP, disebut sebagai pengguna fasilitas tersebut.
Menurut dia, kualitas infrastruktur depo memiliki kaitan langsung dengan efisiensi distribusi barang. Jika tidak segera ditangani, persoalan fasilitas dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko operasional dan memengaruhi kepercayaan pelaku usaha terhadap pengelolaan fasilitas kepelabuhanan.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan teknis jika terjadi pembiaran. Pengelola seharusnya memastikan pemeliharaan fasilitas dilakukan secara terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena Pelabuhan Belawan memiliki posisi strategis dalam jaringan logistik nasional. Gangguan pada fasilitas pendukung, termasuk depo kontainer, dapat berimbas pada kelancaran distribusi barang dan aktivitas pelaku usaha.
Pengguna jasa meminta manajemen PT PIL melakukan evaluasi terhadap sistem drainase, kondisi jalan dan permukaan lapangan depo. Mereka juga mendorong adanya pengawasan serta pemeliharaan fasilitas secara berkala agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Awak media telah berupaya meminta penjelasan kepada pihak manajemen PT PIL melalui seorang pejabat yang disebut bernama “Mitsu” terkait kondisi depo yang tergenang air laut dan pengelolaan fasilitas tersebut.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan dari pihak manajemen PT PIL.
Konfirmasi dan penjelasan dari PT PIL tetap diperlukan untuk menjelaskan penyebab genangan, langkah penanganan yang telah dilakukan, serta rencana perbaikan fasilitas depo kontainer tersebut.
(HK)